
Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan
maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu
itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah
Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu
walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan
di lubang semut pun." Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa
dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu
hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah
kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?" Orang itu
lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!"
Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan
maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu
kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki
yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang
ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham
menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara
setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu
numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu
mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk
terus makan darinya?" "Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga,
Tuan guru."
Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan
maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah." Orang itu tersentak,
"Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap
planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham
menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua
miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan
rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?"
Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu
berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru."
Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan
maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum
kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana
mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat
maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa
masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat
malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan
melakukan dosa lainnya?" Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata
orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang
kelima."
Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan
tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa,
maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam
neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat
dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana
mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup
hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya
sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita,
sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di
akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk
menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau
parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak
sanggup lagi mendengarnya." Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan
Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang
ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
5 komentar:
Sudut Desa
Pemdes Pajeruan
Pemdes Komis
Pemdes Banyukapah
koran desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
desa
Posting Komentar